|
NO TRANSLATION AVAILABLE
Bilqis Anindya Passa (17 bulan), penderita atresia bilier atau tidak terbentuknya saluran empedu, dipersiapkan menjalani cangkok hati di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi, Semarang, Rabu (3/2). Operasi baru dilaksanakan setelah berat badan Bilqis mencukupi.
Begitu sampai di Paviliun Garuda RSUP Dr Kariadi, tim dokter segera memeriksa kondisi Bilqis untuk menentukan tindakan medis yang harus dilakukan. ”Organ hati Bilqis tidak lagi berfungsi baik sehingga harus segera dicangkok. Kondisi Bilqis saat ini secara umum baik, tetapi hanya perlu ditingkatkan berat badannya dari 7,8 kilogram menjadi sekitar 9,0 kilogram untuk siap dioperasi,” kata ahli struktur darah RSUP Dr Kariadi, Profesor Dr dr Ag Soemantri SpA (K). Berdasarkan pengalaman cangkok hati, kemungkinan berhasil tindakan ini mencapai 97 persen. Namun, Soemantri mengatakan, operasi ini tetap memiliki risiko, seperti penolakan, infeksi, atau perdarahan. ”Karena itu, tim kami akan terus memantau pra dan pascaoperasi,” ucap dia. Operasi akan berlangsung secepatnya hingga kondisi Bilqis dinyatakan siap. Operasi antara donor dan Bilqis akan berlangsung bersamaan dalam waktu 12-14 jam. Direktur Utama RSUP Dr Kariadi Hendriani Selina mengatakan, biaya operasi tersebut sepenuhnya akan ditanggung Kementerian Kesehatan. Hendriani optimistis operasi itu akan berhasil berdasarkan pengalaman- pengalaman sebelumnya. Ibunda Bilqis, Dewi Farida, mengatakan, dia dan ayah Bilqis akan menjalani serangkaian pemeriksaan untuk menentukan donor hati yang paling pas bagi Bilqis. ”Donor hati untuk Bilqis diambil dari orangtuanya.” Sebelum dirawat di RSUP Dr Kariadi, Bilqis telah menjalani serangkaian perawatan. Bilqis menghabiskan 60 persen waktunya di rumah sakit. Bilqis juga telah menjalani prosedur kasai pada usia 50 hari. Prosedur kasai adalah operasi untuk memotong saluran yang menghubungkan hati ke usus. Dr dr Hanifah Oswari SpA(K), dokter yang menangani Bilqis di Jakarta, mengatakan, pada sejumlah pasien, tindakan medis ini berhasil memperlama kerja hati sehingga pasien bisa hidup normal hingga berumur puluhan tahun tanpa cangkok hati. ”Pada Bilqis, prosedur kasai tidak berfungsi lama. Kerja hati Bilqis sudah memburuk sehingga cangkok hati harus segera dilakukan. Saat ini, cangkok hati Bilqis sebenarnya sudah sedikit terlambat,” ujar Hanifah yang juga menjadi dokter di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Hanifah menambahkan, kasus atresia bilier sebenarnya sudah banyak terjadi di Indonesia. Di RS Cipto Mangunkusumo saja, jumlah penderita atresia bilier yang terdeteksi mencapai 12-15 orang. ”Saat ini saja, kami sedang menangani satu pasien atresia bilier. Pasien kami berumur 6 bulan. Namun, dia tidak bisa melakukan cangkok hati lantaran tidak punya cukup uang,” ucap Hanifah. Faktor biaya, menurut Hanifah, membuat sejumlah kasus atresia bilier berakhir dengan kematian. Untuk satu kali operasi atresia bilier, pasien harus merogoh biaya sekitar Rp 1 miliar. Hingga kini, cangkok hati di Indonesia baru bisa dilaksanakan di RSUP Dr Kariadi. Selain kebutuhan tenaga dokter yang terlatih, cangkok hati membutuhkan peralatan dan biaya besar untuk pengadaannya. Total, ada dua kali cangkok hati yang telah dilaksanakan di Indonesia. Bilqis adalah calon pasien ketiga. Hanifah mengatakan, jumlah bayi yang menjalani cangkok hati masih sangat kecil dibandingkan dengan penderita yang akhirnya harus pasrah karena tidak punya uang. Mereka yang tidak tertolong akhirnya meninggal dunia.(AGP.k)
|